“Dan apabila aku sakit. Dialah (Allah) yang menyembuhkanku” (As Syu’araa: 80)

Keakraban Sesama FTP

Saling membangun berbagi pengalaman sesama FTP

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Mengenal Efek Samping Metformin, Obat yang Umum Diresepkan untuk Diabetes

Ada beberapa jenis obat diabetes yang dapat digunakan untuk mengontrol kadar gula darah pada diabetes tipe 2. Salah satu obat yang paling sering direkomendasikan dokter adalah metformin. Obat ini bekerja dengan mengurangi kadar gula yang disalurkan hati ke aliran darah dan membuat tubuh lebih peka terhadap insulin. Namun, sama seperti dengan jenis obat lainnya, metformin memilki efek samping dalam penggunaannya, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Apa saja efek samping metformin?


Efek samping metformin jangka panjang

Diabetes melitus merupakan penyakit yang disebabkan oleh tingginya kadar gula dalam darah. Tujuan pengobatan diabetes melalui konsumsi obat adalah untuk membantu menurunkan kadar gula. Dengan begitu, gula darah bisa tetap stabil dalam keadaan normal.

Meskipun termasuk obat diabetes yang paling diandalkan, ternyata metformin tidak selalu bekerja efektif untuk setiap penderita diabetes tipe 2. Salah satu penyebabnya adalah efek samping dari obat ini yang justru melemahkan kondisi kesehatan diabetesi (penderita diabetes)

Berikut adalah jenis-jenis efek samping metformin yang berpotensi terjadi:

1. Asidosis laktat

Meski jarang terjadi, asidosis laktat berpotensi menjadi efek samping metformin yang paling serius. Asidosis laktat adalah penumpukan asam laktat dalam tubuh yang dapat berakibat fatal.

Asidosis laktat terjadi karena metformin mampu menghasilkan asam laktat dalam jumlah besar. Asam laktat sendiri adalah produk hasil metabolisme anaerob (tanpa oksigen) yang akan membuat pH darah lebih asam. Bila kadarnya sangat tinggi maka bisa menyebabkan kerusakan atau gagalnya fungsi berbagai organ tubuh.

Asidosis laktat sebagai efek samping metformin jangka panjang dapat meyebabkan gejala, seperti:

  • Nyeri otot atau merasa lemas
  • Mati rasa atau perasaan dingin di tangan dan kaki
  • Kesulitan bernapas
  • Merasa pusing, kepala berputar, lelah, dan sangat lemas
  • Sakit perut, mual disertai muntah
  • Detak jantung lambat atau tidak teratur

2. Kekurangan vitamin B12

Mengonsumsi metformin dalam jangka panjang menyebabkan menurunnya kadar vitamin B12. Kekurangan vitamin B12 dapat berisiko menimbulkan gangguan kesehatan karena vitamin ini penting untuk menjalankan fungsi DNA, produksi sel darah merah, dan fungsi biokimia lain di dalam tubuh.

Berkurangnya vitamin B12 dalam darah juga dapat menyebabkan anemia megoblastik di mana sumsum tulang tidak dapat memproduksi sel darah merah secara memadai. Meskipun terbilang langka, kondisi ini bisa terjadi jika Anda kekurangan vitamin B12 sebagai efek samping penggunaan obat diabetes ini dalam jangka panjang.

Berikut adalah gejala dari efek samping metformin yang menyebabkan kekurangan vitamin B12:

  • Perubahan warna kulit
  • Peradangan di lidah
  • Refleks tubuh berkurang
  • Merasa gelisah dan tidak tenang
  • Kemampuan mencium bau berkurang
  • Kerusakan saraf-saraf
  • Kesulitan berjalan
  • Gangguan saraf tepi tubuh seperti kesemutan pada jari, kelelahan, nyeri otot, dan cepat lupa.

3. Hipoglikemia

Hipoglikemia adalah kondisi kadar gula darah yang lebih rendah dari biasanya. Jika gula darah turun drastis, hal ini berisiko menimbulkan bahaya bagi kesehatan Anda. Kondisi ini juga terkadang dijumpai sebagai efek samping dari konsumsi metformin pada penderita diabetes.

Efek samping penggunaan metformin jangka panjang yang mengakibatkan hipoglikemia akan memunculkan gejala seperti:

  • Tubuh lemas dan lelah
  • Pusing
  • Mual
  • Muntah
  • Sakit perut
  • Kepala terasa ringan atau melayang
  • Detak jantung melambat atau semakin cepat

Efek samping metformin lainnya

Selain efek jangka panjang yang telah disebutkan yang telah disebutkan, terdapat juga efek samping yang bisa muncul dalam waktu singkat dari penggunaan obat ini.

Menurut laporan dari University of Louisiana Monroe sekitar 30% orang mengeluhkan efek samping lain dari pengunaan metformin, seperti:

  • Mual dan muntah
  • Gangguan pencernaan
  • Penurunan nafsu makan
  • Nyeri otot dan kram
  • Sakit perut
  • Pilek
  • Sakit perut
  • Tubuh melemah
  • Batuk dan suara serak
  • Diare
  • Lemas dan mengantuk

Dokter biasanya akan meresepkan metformin dalam dosis rendah dalam tahap awal pengoabatan diabetes guna menghindari efek samping ini


Faktor-faktor risiko pemicu efek samping metformin

Pemicu efek samping metformin

Selain perubahan dosis, terdapat pula beberapa faktor yang membuat seseorang jadi lebih berisiko mengalami efek samping metformin, seperti:

1. Menjalani operasi

Operasi dan radiologi dapat memperlambat pembuangan metformin dari tubuh Anda. Akibatnya, hal tersebut dapat meningkatkan risiko Anda mengalami efek samping berupa asidosis laktat.

Jika Anda berencana menjalani prosedur operasi atau radiologi, Anda harus berhenti minum metformin 48 jam sebelum menjalani prosedur tersebut.

2. Minum alkohol secara berlebihan

Minum alkohol ketika sedang minum metformin bisa meningkatkan risiko Anda mengalami hipoglikemia. Selain itu, konsumsi alkohol yang berlebihan juga berpotensi memicu terjadinya asidosis laktat. Hal ini dikarenakan alkohol meningkatkan kadar asam laktat di tubuh Anda.

Anda tidak diperbolehkan minum alkohol secara berlebihan saat minum obat ini. Jika perlu, sebaiknya Anda tidak minum alkohol sama sekali agar Anda dapat terhindar dari risiko terkena efek samping metformin.

3. Gangguan ginjal

Ginjal Anda membuang sisa metformin dari tubuh. Jika ginjal tidak berfungsi dengan baik, akan terlalu banyak metformin di dalam tubuh Anda yang bisa membuat Anda berisiko mengalami asidosis laktat.

Apabila Anda menderita masalah ginjal yang tergolong ringan dan sedang, dokter mungkin akan meresepkan metformin dalam dosis yang rendah.

Namun, jika masalah ginjal yang Anda derita cukup parah dan sudah memasuki usia 80 tahun ke atas, dokter tidak akan meresepkan metformin untuk mengatasi diabetes Anda.

4. Menderita masalah jantung dan hati

Anda tidak disarankan minum metformin apabila Anda menderita penyakit gagal jantung akut atau baru saja mengalami serangan jantung.

Jantung yang bermasalah mungkin tidak dapat menyuplai darah yang cukup ke ginjal. Kondisi ini menyebabkan ginjal tidak mampu membuang metformin dengan baik sehingga risiko terkena asidosis laktat pun tinggi.

Anda juga tidak boleh menjalani pengobatan dengan metformin jika hati Anda bermasalah. Salah satu fungsi hati Anda adalah membuang asam laktat dari tubuh.

Jadi, jika hati tidak berfungsi dengan baik, asam laktat akan menumpuk dalam tubuh. Kondisi ini yang dapat meningkatkan risiko terjadinya asidosis laktat.

Tubuh setiap orang berbeda, sehingga respons terhadap obat metformin juga akan berbeda-beda. Dengan kata lain, berbagai efek samping yang telah disebutkan di atas tidak selalu muncul pada setiap orang.

Dokter Anda akan mempertimbangkan risiko mana yang lebih besar, risiko efek samping metformin atau risiko komplikasi diabetes yang berbahaya. Oleh karena itu, selalu konsultasikan kondisi Anda dan perubahan apa pun yang Anda rasakan setelah minum obat ini pada dokter

Selain perubahan dosis, terdapat pula beberapa faktor yang membuat seseorang jadi lebih berisiko mengalami efek samping metformin, seperti:

1. Menjalani operasi

Operasi dan radiologi dapat memperlambat pembuangan metformin dari tubuh Anda. Akibatnya, hal tersebut dapat meningkatkan risiko Anda mengalami efek samping berupa asidosis laktat.

Jika Anda berencana menjalani prosedur operasi atau radiologi, Anda harus berhenti minum metformin 48 jam sebelum menjalani prosedur tersebut.

2. Minum alkohol secara berlebihan

Minum alkohol ketika sedang minum metformin bisa meningkatkan risiko Anda mengalami hipoglikemia. Selain itu, konsumsi alkohol yang berlebihan juga berpotensi memicu terjadinya asidosis laktat. Hal ini dikarenakan alkohol meningkatkan kadar asam laktat di tubuh Anda.

Anda tidak diperbolehkan minum alkohol secara berlebihan saat minum obat ini. Jika perlu, sebaiknya Anda tidak minum alkohol sama sekali agar Anda dapat terhindar dari risiko terkena efek samping metformin.

3. Gangguan ginjal

Ginjal Anda membuang sisa metformin dari tubuh. Jika ginjal tidak berfungsi dengan baik, akan terlalu banyak metformin di dalam tubuh Anda yang bisa membuat Anda berisiko mengalami asidosis laktat.

Apabila Anda menderita masalah ginjal yang tergolong ringan dan sedang, dokter mungkin akan meresepkan metformin dalam dosis yang rendah.

Namun, jika masalah ginjal yang Anda derita cukup parah dan sudah memasuki usia 80 tahun ke atas, dokter tidak akan meresepkan metformin untuk mengatasi diabetes Anda.

4. Menderita masalah jantung dan hati

Anda tidak disarankan minum metformin apabila Anda menderita penyakit gagal jantung akut atau baru saja mengalami serangan jantung.

Jantung yang bermasalah mungkin tidak dapat menyuplai darah yang cukup ke ginjal. Kondisi ini menyebabkan ginjal tidak mampu membuang metformin dengan baik sehingga risiko terkena asidosis laktat pun tinggi.

Anda juga tidak boleh menjalani pengobatan dengan metformin jika hati Anda bermasalah. Salah satu fungsi hati Anda adalah membuang asam laktat dari tubuh.

Jadi, jika hati tidak berfungsi dengan baik, asam laktat akan menumpuk dalam tubuh. Kondisi ini yang dapat meningkatkan risiko terjadinya asidosis laktat.

Tubuh setiap orang berbeda, sehingga respons terhadap obat metformin juga akan berbeda-beda. Dengan kata lain, berbagai efek samping yang telah disebutkan di atas tidak selalu muncul pada setiap orang.

Dokter Anda akan mempertimbangkan risiko mana yang lebih besar, risiko efek samping metformin atau risiko komplikasi diabetes yang berbahaya. Oleh karena itu, selalu konsultasikan kondisi Anda dan perubahan apa pun yang Anda rasakan setelah minum obat ini pada dokter.

Komplikasi Diabetes

Seorang dengan diabetes melitus harus disiplin menjaga dan memantau kadar gula darahnya. Tanpa pengobatan dan penyesuaian gaya hidup, diabetes melitus dapat meningkatkan risiko komplikasi penyakit serius lainnya. Komplikasi diabetes bahkan bisa berakibat fatal dan mengancam nyawa. Apa saja komplikasi diabetes yang mungkin muncul?

Berbagai komplikasi diabetes, baik tipe 1 ataupun 2

Diabetes adalah penyakit yang memengaruhi hampir semua organ tubuh, termasuk jantung, pembuluh darah, mata, ginjal, hingga saraf dan gigi. Maka, tidak heran jika penyakit komplikasi akibat diabetes melitus juga bisa menyerang berbagai organ tersebut.

Berikut sederet bahaya dan komplikasi diabetes melitus yang mungkin terjadi jika Anda tidak menjaga kadar gula darah dan menjalani pengobatan diabetes dengan baik.

1. Hiperglikemia dan hipoglikemia

Akibat diabetes hiperglikemia

Jika diabetesi (penderita diabetes) tidak dapat mengontrol penyakitnya, kadar gula dalam darah bisa melonjak tinggi atau bahkan turun sangat rendah. Kondisi nilai gula darah yang terlalu tinggi dari batas normal (bisa mencapai 500 mg/dL) disebut hiperglikemia. Sebaliknya, jika terlalu rendah (kurang dari 60 mg/dL) dinamakan hipoglikemia.

Penderita diabetes tipe 1 dapat mengalami hiperglikemia jika tidak melakukan suntik insulin sebelum makan. Ini karena tubuh akan kekurangan insulin yang berfungsi dalam proses perubahan glukosa menjadi energi. Sementara itu, orang yang rutin mengonsumsi obat diabetes juga bisa mengalami hipoglikemia jika tidak memantau kadar glukosa darahnya dengan baik. 


Jika tidak ditangani dengan baik, keduanya bisa mengancan jiwa karena dapat mengarah pada stroke, koma (mati otak) atau dikenal dengan diabetes koma, dan kematian.

2. Rambut rontok

penyebab utama rambut rontok

Rambut rontok mungkin tergolong komplikasi diabetes melitus yang paling ringan. Meski tidak terlalu bahaya bagi kesehatan tubuh, rambut rontok tetap tidak boleh disepelekan.

Kerontokan rambut terjadi akibat kerusakan pembuluh darah sehingga aliran darah segar penuh nutrisi ke folikel rambut jadi terhambat. Folikel yang kekurangan nutrisi dan oksigen pada akhirnya melemah dan tidak dapat mendukung pertumbuhan rambut sehat.

Selain itu, kondisi ini juga ikut berdampak pada cara kerja sistem endokrin. Sistem endokrin menghasilkan hormon androgen yang mengatur pertumbuhan rambut serta kesehatan folikel rambut. Ketika sistem endokrin bermasalah, kesehatan folikel rambut juga bisa ikut terpengaruh sehingga rambut jadi mudah rontok.

Kerontokan akibat penyakit gula ini nantinya bisa menyebabkan kebotakan. Tidak hanya pada rambut di kepala, tapi juga di lengan, kaki, alis, dan bagian tubuh lainnya.

3. Masalah gigi dan mulut

cara menghilangkan gigi hitam

Komplikasi diabetes melitus selanjutnya adalah masalah gigi dan mulut. Komplikasi ini umumnya muncul akibat kadar gula darah tinggi yang tidak terkendali. Kondisi tersebut dapat memicu infeksi dan berbagai masalah pada mulut, termasuk gangguan pada gigi, gusi, serta lidah.

Air liur mengandung gula alami. Ketika diabetes tidak terkontrol, tak hanya glukosa dalam darah saja yang meningkat tapi juga glukosa pada air liur. Air liur yang tinggi gula akan mengundang bakteri untuk tumbuh dan berkembang di dalam mulut.

Nantinya, bakteri yang berkumpul di dalam mulut akan memicu pembentukan plak pada permukaan gigi. Plak yang semakin menebal dapat membuat gusi dan daerah di sekitar mulut menjadi meradang dan terinfeksi.

Beberapa masalah gigi dan mulut yang sering dialami oleh para diabetesi meliputi radang gusi (gingivitis), penyakit gusi (periodontitis), mulut kering, hingga candidiasis (infeksi jamur di mulut).

4. Disfungsi ereksi pada pria dan infeksi jamur vagina pada wanita

disfungsi seksual komplikasi diabetes melitus

Banyak orang yang tidak sadar bahwa impotensi (disfungsi ereksi) termasuk komplikasi diabetes melitus pada pria.

Hampir sebanyak 1 dari 3 pria yang terkena diabetes mengalami disfungsi ereksi. Pada wanita, diabetes melitus dapat menimbulkan masalah seks akibat infeksi jamur vagina.

Efek diabetes pada pria berupa disfungsi ereksi menyebabkan ketidakmampuan mencapai atau mempertahankan ereksi. Ini terjadi karena rusaknya pembuluh darah dan saraf. Padahal, organ penis dipenuhi oleh pembuluh darah dan saraf.

Diabetes bisa membahayakan fungsi saraf tertentu pada tubuh, yakni autonomic nervous system (ANS). Sistem saraf ini mengontrol pelebaran dan pembatasan pembuluh darah. Jika pembuluh darah dan saraf pada penis pria rusak karena efek diabetes, hal ini dapat berdampak pada disfungsi ereksi.

Masalah saraf lainnya yang juga menjadi efek diabetes pada pria adalah ejakulasi terbalik. Kondisi ini berdampak pada sperma yang keluar mengarah ke dalam kandung kemih bukan sebaliknya. Ejakulasi terbalik juga bisa mengurangi produksi semen selama ejakulasi.

Sementara pada wanita, gejala infeksi jamur vagina dapat membuat seks tidak menyenangkan. Infeksi jamur pada organ intim diakibatkan oleh ketidakseimbangan bakteri akibat tingginya kadar gula dalam tubuh.

5. Kerusakan saraf

komplikasi diabetes melitus kerusakan saraf

Neuropati diabetik adalah jenis kerusakan saraf yang terjadi akibat komplikasi diabetes melitus. Menurut American Academy of Family Physicians, 10-20% pengidap diabetes mengalami nyeri saraf.

Kadar gula darah tinggi dapat merusak saraf-saraf yang ada di tubuh. Pada kebanyakan kasus, komplikasi diabetes melitus ini menyerang saraf tangan dan kaki.

Komplikasi ini menyebabkan mati rasa, atau kesemutan pada jari-jari tangan dan kaki. Gejala lainnya yaitu timbulnya nyeri, kesemutan, kebas atau baal, hingga sensasi terbakar.

6. Kerusakan mata

presbiopi mata tua

Bahaya komplikasi akibat diabetes melitus tidak hanya menyerang saraf di kaki dan tangan saja, tapi juga mata. Pada mulanya, komplikasi ini ditandai dengan penglihatan kabur selama beberapa hari atau minggu dan akan hilang setelah kadar gula yang tinggi kembali normal.

Namun, ketika kadar gula darah terus-terusan tinggi, pembuluh darah kecil yang ada di belakang mata bisa rusak.

Pembuluh darah yang rusak akibat diabetes melitus ini dapat melemahkan saraf, bahkan menimbulkan adanya pembengkakan dan berisi cairan. Selain itu, pembuluh darah ini dapat mengalami perdarahan di bagian tengah mata, yang memicu pertumbuhan jaringan parut atau menyebabkan tekanan tinggi di dalam mata Anda.

Beberapa gangguan penglihatan akibat diabetes melitus yang mungkin terjadi, antara lain:

Retinopati diabetik

Edema makula diabetik

Glaukoma

Katarak diabetik

7. Penyakit kardiovaskuler

penyakit kardiovaskular komplikasi diabetes melitus

Kadar gula darah tinggi dapat menyebabkan lemak menumpuk di dinding pembuluh darah. Seiring waktu, kondisi ini bisa menghambat sirkulasi darah yang pada akhirnya meningkatkan risiko aterosklerosis pada pasien diabetes melitus.

Aterosklerosis akibat komplikasi diabetes menandakan adanya pengerasan pembuluh darah yang dapat menimbulkan bahaya kesehatan, seperti serangan jantung atau stroke.

Hal ini pun dibenarkan oleh American Heart Association (AHA). Dalam website resminya, AHA mengatakan bahwa orang dengan diabetes empat kali lebih mungkin meninggal karena penyakit jantung ketimbang mereka yang tidak memiliki riwayat penyakit diabetes.

Para ahli percaya bahwa komplikasi diabetes melitus ini bisa terjadi akibat adanya faktor risiko yang berkaitan dengan penyakit kardiovaskuler. Faktor risiko yang dimaksud, yaitu tekanan darah tinggi, kadar kolesterol dan trigliserida tinggi, obesitas, malas gerak, serta merokok.

Selain itu, orang yang memiliki diabetes juga berisiko terkena aritmia. Kondisi ini merujuk pada detak jantung yang tidak normal; bisa lebih cepat, lebih lambat, atau tidak teratur.

Aritmia bisa menyebabkan jantung yang tidak memompa dengan benar sehingga sirkulasi darah pada otak dan organ-organ penting di dalam tubuh terhambat. Komplikasi ini juga bisa menyebabkan diabetesi mengalami stroke dan gagal jantung. Lambat laun, akibat penyakit gula ini bisa membuat jantung rusak dan lemah.

8. Kerusakan ginjal (nefropati diabetik)

obat penghancur batu ginjal

Mayo Clinic mengatakan bahwa lebih dari 405 orang dengan diabetes mengalami kerusakan ginjal akibat komplikasi diabetes.

Kerusakan ginjal akibat diabetes dalam istilah medis disebut dengan nefropati diabetik. Kondisi ini dapat menyerang orang dengan jenis diabetes melitus tipe 1 ataupun tipe 2. Nefropati diabetik terjadi ketika diabetes merusak pembuluh darah dan sel-sel yang ada di ginjal Anda.

Gula darah yang tinggi dapat menyebabkan ginjal bekerja terlalu keras sehingga memicu terjadinya kerusakan pembuluh darah kecil (glomeruli) di ginjal. Lambat laun, pembuluh darah pada ginjal yang rusak dapat menurunkan fungsi ginjal.

9. Kaki diabetik (diabetic foot)

mengatasi kram kaki

Ketika diabetes, luka sedikit saja bisa jadi infeksi parah yang sulit diobati dan lama sembuhnya.

Dalam kasus yang serius, luka ketika diabetes  bahkan bisa membuat kaki diamputasi. Komplikasi diabetes melitus satu ini dikenal dengan diabetic foot atau kaki diabetes.

Komplikasi diabetes melitus ini terjadi karena tingginya kadar gula darah dapat menghambat sirkulasi darah ke bagian kaki serta kerusakan saraf kaki. Akibatnya sel-sel kaki kesulitan untuk memperbaiki jaringan dan saraf yang rusak.

Selain itu, kerusakan saraf pada kaki diabetik juga dapat menyebabkan mati rasa atau sensai kebas di bagian kaki.

10. Ketoasidosis diabetik

lemas saat puasa

Ketoasidosis diabetik adalah komplikasi diabetes melitus yang serius dan tak boleh Anda sepelekan.

Menurut American Diabetes Association, ketoasidosis lebih sering terjadi pada orang dengan diabetes tipe 1.Kondisi ini terjadi ketika tubuh menghasilkan terlalu banyak asam darah, yang disebut keton.

Ketika tubuh tidak menghasilkan cukup insulin untuk menyerap gula darah, tubuh akan  memecah lemak sebagai energi. Proses pemecahan lemak menjadi energi akan menghasilkan keton.

Keton yang dihasilkan berlebihan akan menumpuk di dalam darah dan menimbulkan gejala dehidrasi berat seperti haus berlebihan, sering buang air kecil, dan tubuh lemas. Tak jarang, ketoasidosis bisa sampai menyebabkan koma.

Penyakit diabetes memang tidak dapat disembuhkan, tapi Anda bisa mengelola gejala dan mencegah komplikasinya. Kuncinya adalah rutin melakukan pemeriksaan ke dokter dan minum obat, mengubah pola hidup menjadi lebih sehat, dan menghindari pantangan diabetes.

Di samping itu, Anda juga perlu rutin mengecek kadar gula dalam darah. Dokter yang merupakan ahli endokrinologi akan memberi tahu kadar gula darah yang normal untuk Anda.


Kadar glukosa darah yang ideal untuk setiap orang mungkin bisa berbeda-beda nilainya karena tergantung dengan usia, kondisi kesehatan tertentu seperti kehamilan, atau faktor lainnya.

Nilai Normal GULA DARAH

Memiliki kadar gula darah normal pada tubuh sangat penting karena bisa menunjang kinerja tubuh dan membuat Anda tetap sehat. Namun apakah Anda tahu berapa kadar gula darah normal yang harus Anda miliki?

Sebenarnya kadar gula darah normal tidak berpatokan pada satu angka baku. Kadar ini bisa berubah seperti saat sebelum dan sesudah Anda makan atau juga saat waktunya tidur.

Berapa Kadar Gula Darah Normal pada Tubuh? - Alodokter

Kisaran Kadar Gula Darah yang Normal

Seusai makan, sistem pencernaan Anda akan memecah karbohidrat menjadi gula atau glukosa yang bisa diserap oleh aliran darah. Zat tersebut sangat penting untuk sumber energi sel-sel tubuh Anda. Darah mengalirkan zat gula ini menuju sel-sel tubuh guna menjadikannya energi.

Namun, zat gula ini harus melewati sebuah ‘pintu’ untuk memasuki sel-sel tersebut. Hormon yang berperan dalam membuka ‘pintu’ itu adalah insulin. Insulin dihasilkan oleh pankreas. Setelah memasuki sel, zat gula ini akan dibakar menjadi energi yang bisa Anda pakai. Gula yang lebih akan disimpan di hati untuk dipakai di kemudian hari.

Berikut kisaran kadar gula darah normal pada tubuh:

  • Sebelum makan: sekitar 70-130 mg/dL
  • Dua jam setelah makan: kurang dari 140 mg/dL
  • Setelah tidak makan (puasa) selama setidaknya delapan jam: kurang dari 100 mg/dL
  • Menjelang tidur: 100 – 140 mg/dL

Mengenali Tanda Kekurangan dan Kelebihan Gula Darah

Menjaga kadar gula darah agar dalam angka normal sangat penting. Gula darah terlalu rendah (hipoglikemia) atau tinggi (hiperglikemia) bisa berdampak negatif pada tubuh Anda. Jika gula darah Anda di bawah 70 mg/dL maka Anda mengalami hipoglikemia. Anda dikatakan mengalami hiperglikemia jika kadar gula darah Anda lebih dari 200 mg/dL.

Efek terlalu rendahnya kadar gula darah antara lain:

  • Tubuh lemas
  • Kulit pucat
  • Berkeringat
  • Kelelahan
  • Gelisah
  • Sulit berkonsentrasi
  • Mudah marah
  • Kesemutan di area mulut
  • Tidak mampu berdiri atau berjalan
  • Kejang
  • Jantung berdebar

Efek terlalu tingginya kadar gula darah antara lain:

  • Bobot tubuh berkurang
  • Nafsu makan meningkat
  • Tubuh lelah
  • Haus
  • Sering buang air kecil
  • Mudah gelisah
  • Penglihatan buram
  • Kulit kering, memerah dan terasa panas
  • Sering infeksi gigi

Selain itu, kadar gula darah tinggi yang tidak terkontrol juga bisa menimbulkan komplikasi berbahaya, seperti ketoasidosis diabetik dan sindrom hiperglikemi hiperosmolar nonketotik (HHNK).

Cara Mempertahankan Kadar Gula Darah Normal

Untuk menghindari efek gula darah terlalu rendah atau tinggi, mari jaga kadar gula darah Anda agar tetap dalam batas normal. Berikut cara-cara yang bisa Anda lakukan:

  • Olahraga rutin
    Dengan rutin olahraga, Anda bisa menstabilkan gula darah. Lakukan olahraga setidaknya 2,5 jam per minggu secara teratur. Anda bisa melatih kekuatan otot-otot tubuh karena peranannya dalam menggunakan dan menyimpan gula sangat besar. Hal tersebut bisa membuat kadar gula darah tetap normal. Namun ingat, jangan berlebihan melakukan aktivitas fisik karena hal tersebut bisa memicu hipoglikemia.
  • Perhatikan asupan makanan
    Sebaiknya batasi konsumsi karbohidrat. Sumber karbohidrat yang bisa Anda pilih yaitu ubi, pasta dari biji-bijian utuh, dan nasi merah. Makanan lain yang bagus untuk Anda konsumsi yaitu kacang-kacangan seperti almond, ikan salmon, daging dada ayam tanpa kulit,  brokoli, bayam, dan kayu manis.
  • Makan tepat waktu
    Jangan melewatkan waktu makan Anda, terutama sarapan. Jika hal ini terjadi, rasa lapar akan meningkat di jam makan berikutnya. Hasilnya Anda akan makan secara berlebihan, kemudian naiklah gula darah Anda. Makan tiga kali sehari ditambah dua camilan bernutrisi di sela-sela jam makan bisa membantu gula darah tetap normal.
  • Hindari stres
    Sebaiknya segera atasi stres yang Anda alami, karena kondisi ini bisa membuat kadar gula darah Anda meningkat.
  • Selalu sedia camilan manis
    Selalu bawa camilan manis seperti permen untuk mencegah kadar gula darah menurun drastis. Namun jangan mengonsumsinya secara berlebihan.

Untuk mengetahui kadar gula darah normal, tes gula darah bisa dilakukan di rumah sakit, atau jika ingin praktis Anda bisa membeli alat tes gula darah yang bisa dipakai di rumah. Namun, untuk memantau kadar gula darah selama 2 sampai 3 bulan terakhir, diperlukan tes haemoglobin A1c (HbA1c) di laboratorium. Sebaiknya konsultasi ke dokter untuk mengetahui jenis tes darah yang dibutuhkan.


Disclaimer : 

Forum Terapis Profesional  adalah sebuah forum komunitas untuk berbagi informasi dan edukasi. Seluruh konten, diskusi, dan saran yang ada di dalam forum ini tidak bertujuan untuk menggantikan diagnosis, pengobatan, atau saran medis resmi dari dokter atau profesional kesehatan konvensional. 

Segala keuntungan hasil maupun resiko pelayanan menjadi hak dan tanggung jawab seorang terapi ybs. Jika menemukan informasi alamat palsu atau malpraktek yang di lakukan anggota FTP,  Anda sebaiknya segera melapor admin FTP 085 201 211 353 / 0821-3525-5448 untuk segera kami ambil kebijakan lebih lanjut.

Mari bergabung bersama ribuan anggota lainnya membangun kesejahteraan dan kesehatan